Siberasi.id – Transaksi digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan (Ciayumajakuning) mencapai nilai fantastis.
Selama triwulan I tahun 2026 saja, Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia Cirebon mencatat, transaksi melalui penggunaan QRIS di Ciayumajakuning tembus hingga Rp5,63 triliun.
Dalam rentang waktu Januari hingga Maret 2026, KPw Bank Indonesia Cirebon mencatat jumlah perputaran uang sebesar itu berasal dari 64,82 juta transaksi QRIS.
“Kota Cirebon menjadi kontributor terbesar dengan porsi 50,63 persen dari total transaksi,” ungkap Kepala KPw Bank Indonesia Cirebon, Wihujeng Ayu Rengganis saat High Level Meeting (HLM) TPID dan TP2DD Kota Cirebon, di Aula KPw Bank Indonesia Cirebon, Selasa (19/5/2026).
Selain itu, realisasi Kartu Kredit Indonesia (KKI) di Kota Cirebon hingga Maret 2026 mencapai Rp2,02 miliar, tertinggi di wilayah Ciayumajakuning.
Kondisi Inflasi Kota Cirebon
Sementara terkait kondisi inflasi, Wihujeng Ayu mengatakan, secara umum inflasi Kota Cirebon masih berada dalam rentang target.
Namun demikian, komoditas pangan strategis seperti beras, daging ayam ras, telur, bawang merah, dan cabai merah tetap perlu menjadi perhatian utama.
“Karena kontribusinya terhadap inflasi cukup besar,” ujarnya.
Ia menyebutkan, Kota Cirebon pada April 2026 mengalami deflasi. Pemicunya adalah normalisasi konsumsi masyarakat pascalebaran Idulfitri, serta terjaganya pasokan pangan seiring musim panen.
“Inflasi Mei diprakirakan lebih rendah dengan dorongan deflasi pada komoditas pangan seperti telur, daging ayam ras, dan minyak goreng,” tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Daerah Kota Cirebon, Iing Daiman menyampaikan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, inflasi Kota Cirebon pada April 2026 tercatat deflasi sebesar 0,06 persen (mtm), dengan inflasi tahunan 2,75 persen dan inflasi tahun kalender 0,97 persen.
Capaian ini menunjukkan kondisi inflasi yang relatif terkendali dan masih berada dalam rentang sasaran nasional.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), di antaranya melalui Gerakan Pangan Murah, operasi pasar bersubsidi, pemantauan harga dan stok bahan pokok, hingga penguatan UMKM melalui Mall UKM.
Di sisi lain, kondisi ekonomi masyarakat masih menunjukkan optimisme. Hal ini tercermin dari Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) April 2026 yang berada di angka 113,0 atau di atas level optimis (>100), meskipun mengalami sedikit penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. (afi/*)

