Siberasi.id – Jalur utama pantai utara (pantura) di wilayah timur Kabupaten Cirebon terendam banjir, Selasa (19/5/2026) pagi. Kendaraan yang hendak melintas terpaksa berhenti, sehingga mengakibatkan arus lalu lintas tersendat.
Banjir terparah terjadi di wilayah Desa Rawa Urip dan Desa Bendungan, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon. Antrean kendaraan tampak mengular panjang di jalur nasional tersebut.
Genangan air setinggi 30 hingga 50 sentimeter membuat sejumlah kendaraan, terutama roda dua, memilih tidak melintas. Bahkan, tak sedikit pengendara yang terpaksa memutar balik untuk mencari jalur alternatif yang lebih aman.
Banjir diketahui berasal dari luapan air Sungai Cimanis di Desa Beringin yang meluber ke area persawahan, kemudian menggenangi badan jalan Pantura yang berada di titik cekung.
Salah seorang pengendara, Wawan (26), mengaku terdampak akibat banjir tersebut. Ia mengaku terlambat masuk kerja karena harus mencari jalur lain.
“Kalau sudah begini pasti kesiangan buat masuk kerja, soalnya ketinggian air pasti ngerendem motor,” kata Wawan.
Menurutnya, kondisi tersebut memaksanya memutar arah dengan jarak tempuh yang lebih jauh menuju perusahaan tempatnya bekerja.
“Mau enggak mau harus mutar arah dengan jarak yang lumayan jauh, otomatis jadi agak kesiangan,” katanya.
Sementara itu, Kapolsek Pangenan, AKP Abdul Majid mengatakan, banjir dipicu tingginya debit air Sungai Cimanis akibat hujan deras yang terjadi sejak malam hari.
“Air sungai meluap ke area persawahan, kemudian masuk ke badan jalan karena posisi jalannya lebih rendah atau cekung,” jelasnya.
Ia menyebutkan, hingga Selasa pagi genangan di badan jalan mulai berangsur surut. Kendaraan sudah dapat melintas meski hanya menggunakan satu lajur.
“Sampai saat ini kendaraan sudah bisa melintasi, meskipun hanya satu lajur karena air mulai surut,” katanya.
Rendam Permukiman Warga
Selain menggenangi Jalur Pantura, banjir juga merendam permukiman warga di Desa Rawa Urip dan Desa Bendungan dengan ketinggian air sempat mencapai 40 sentimeter sebelum akhirnya perlahan surut.
Untuk mengurai kepadatan kendaraan, polisi menerapkan rekayasa lalu lintas berupa sistem contraflow di titik genangan terdalam khusus kendaraan kecil. Sementara kendaraan besar tetap diarahkan melintas di jalur normal.
“Kami melakukan pengaturan lalu lintas dan menerapkan contraflow untuk kendaraan kecil di titik terdalam. Sedangkan kendaraan besar tetap di jalur normal,” katanya. (afi)

