Siberasi.id – Limbah berupa cangkang kerang ijo tampak menggunung di Desa Mertasinga, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon. Seakan tanpa penanganan, potret itu sudah berlangsung bertahun-tahun.
Pada sebuah lokasi yang tak jauh dari Sungai Bondet, tumpukan limbah kerang ijo mengular bahkan hingga ratusan meter di sisi jalan desa. Aromanya amat tak sedap.
Salah seorang warga setempat, Wartiman menyampaikan, kondisi seperti ini sudah terjadi hampir lima tahun. Warga merasa terganggu dengan aroma tak sedap dari tumpukan limbah kerang ijo tersebut.
“Yang buang di sini banyak. Bukan hanya warga Mertasinga, warga tetangga desa juga ikut buang di sini,” kata Wartiman, Kamis (30/4/2026).
Kebiasaan membuang sampah tidak ada tempatnya juga memang tak bisa dibenarkan. Namun, ketersediaan tempat pembuangan sementara (TPS) khusus dan pengelolaannya, mestinya jadi perhatian pemerintah daerah.
Atas persoalan tersebut, Pemkab Cirebon baru akan memetakan penanganan limbah kerang ijo tersebut. Konon agar penanganannya lebih terarah dan efektif.
“Dari hasil pemetaan hari ini, kami siapkan beberapa alternatif solusi. Yang pertama, limbah akan diangkut ke TPA, seperti TPA Gunung Santri dan TPA Kubang,” kata Wakil Bupati Cirebon, Agus Kurniawan Budiman saat membahas persoalan limbah kerang ijo di Balaidesa Grogol, Kecamatan Gunungjati.
Selain pengangkutan, Pemkab Cirebon juga menyiapkan langkah jangka pendek dengan memanfaatkan limbah kerang sebagai material urugan.
“Ini sedang kita kaji melalui perangkat daerah teknis, terutama DPUPR. Harapannya, selain mengurangi limbah, juga bisa membantu perbaikan infrastruktur,” kata Agus.
Wabup Agus menyatakan, pihaknya menargetkan bisa menangani persoalan limbah kerang ijo dalam waktu satu bulan. Penanganan jangka panjangnya yaitu dengan mengolah limbah kerang ijo menjadi produk bernilai guna.
“Karena kandungannya mirip kapur, ini punya potensi besar untuk diolah. Ke depan akan kita kaji lebih dalam agar bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan,” tuturnya.
Selain sektor konstruksi, limbah kerang ijo juga berpeluang dikembangkan menjadi produk kerajinan oleh masyarakat pesisir. (afi)

