Siberasi.id – Musim pemberangkatan jemaah haji telah tiba. Ada salah satu tradisi yang masih lestari di Cirebon, jika ada anggota keluarganya yang berhaji ke Tanah Suci, yaitu ‘gentong haji’.
Seperti yang terlihat di Desa Suranenggala Kidul, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon. Tradisi gentong haji masih dilakukan hingga kini.
Sebuah gentong –tempat penyimpan air yang terbuat dari tanah liat, biasanya diletakkan di depan rumah jemaah haji. Oleh pihak keluarga yang ditinggalkan ke Tanah Suci, gentong itu diisi dengan air bersih dan laik minum.
Pihak keluarga jemaah haji akan mempersilakan siapapun yang ingin menggunakan air tersebut. Baik untuk minum maupun sekadar cuci muka.
Tradisi ini diyakini memiliki banyak nilai kebaikan. Tidak hanya sebagai simbol doa, melainkan sedekah air bagi yang membutuhkan, semisal pedagang keliling, tradisi gentong haji juga jadi simbol menguatkan.
Selain menguatkan, gentong haji juga menjadi simbol spirit menyejukkan, bagi jemaah haji yang tengah berada di Tanah Suci maupun keluarga di Tanah Air.
“Gentong haji ini bagian dari tradisi masyarakat Cirebon. Konon tujuannya untuk menyejukkan hati, menguatkan tenaga, dan melancarkan ibadah orang yang sedang berhaji,” ungkap Anila, anak seorang jemaah haji asal Desa Suranenggala Kidul, Sabtu (9/5/2026).
Anila mengaku, keluarganya melestarikan tradisi gentong haji kala sang ayah, Slamet, berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan rukun Islam kelima tersebut.
“Kalau airnya habis, pasti kita isi lagi. Selama belum 40 hari, tetap tersedia penuh. Jadi bukan hanya simbol, tapi juga bentuk sedekah air minum untuk umum,” katanya.
Tak hanya memasang gentong haji, keluarga jemaah haji juga rutin menggelar doa bersama setiap malam, selepas Magrib atau Isya selama 40 hari. Kegiatan itu melibatkan keluarga besar, tetangga, hingga kerabat sekitar.
“Ini sudah menjadi tradisi masyarakat di sini. Setiap ada yang berangkat haji biasanya warga ikut mendoakan bersama,” kata Anila. (afi)

