Siberasi.id – Aktivitas pelayaran di Pelabuhan Kejawanan, Kota Cirebon, lumpuh. Ratusan kapal terpaksa bersandar akibat sulitnya pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar bersubsidi.
Kesulitan pasokan solar bersubsidi sebenarnya bukan persoalan baru. Namun dalam sebulan terakhir ini para pemilik kapal semakin merasakan dampaknya. Sehingga kapal yang sandar di Pelabuhan Kejawanan Cirebon tak bisa beroperasi.
Salah satu pengurus kapal, Tesi, mengatakan kebutuhan BBM untuk sekali berlayar mencapai 24 kiloliter (KL). Namun, saat ini pasokan yang tersedia masih jauh dari cukup.
“Sekarang hanya dibatasi 15 KL BBM bersubsidi untuk kapal ukuran 30 GT. Jelas tidak cukup untuk operasional,” ungkap Tesi, Rabu (15/4/2026).
Akibat keterbatasan pasokan tersebut, banyak kapal memilih tidak berlayar karena risiko kerugian yang tinggi. Kondisi ini membuat roda ekonomi nelayan ikut tersendat.
“Kami terpaksa bertahan di pelabuhan karena BBM tidak mencukupi,” ujar Tesi.
Ia menambahkan, kondisi ini juga berdampak pada ratusan anak buah kapal (ABK) yang kini kehilangan pekerjaan sementara, lantaran kapal tidak beroperasi.
“Satu kapal berisi minimal 13 ABK, sedangkan di Pelabuhan Kejawanan ada sekitar 126 kapal ukuran 30GT,” lanjutnya.
Ia berharap pemerintah segera menambah kuota BBM bersubsidi, setidaknya menjadi 20 KL per keberangkatan, agar kapal di Pelabuhan Kejawanan Cirebon bisa kembali beraktivitas melaut.
“Kalau kondisinya seperti ini terus, bukan hanya kapal yang berhenti, tapi juga kehidupan nelayan ikut terhenti,” katanya.
Sementara itu, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Kota Cirebon, Karsudin mengaku, pihaknya sudah menyampaikan keresahan nelayan terkait keterbatasan pasokan BBM bersubsidi kepada Pertamina.
“Kami sudah bersurat kepada Menteri ESDM dan Pertamina agar kuota BBM bisa ditambah, namun belum ada balasannya,” katanya. (afi)

