Siberasi.id – Dua balita meninggal dunia karena campak yang tengah mewabah di Cirebon. Mereka meninggal dunia di RSD Gunung Jati Kota Cirebon pada Maret dan April 2026.
Dokter Spesialis Anak di RSD Gunung Jati, dr Suci Saptyuni mengungkapkan, sedikitnya terdapat empat pasien anak terkonfirmasi campak yang harus mendapatkan perawatan intensif di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) dalam beberapa waktu terakhir ini.
Itu artinya kondisi pasien dalam keadaan gawat. Takdir berkata lain, dua dari pasien tersebut meninggal dunia. Masing-masing warga Kabupaten Cirebon dan Kota Cirebon.
Kedua pasien memiliki faktor risiko yang memperberat kondisi, seperti gizi buruk dan kelainan bawaan, serta riwayat imunisasi yang tidak lengkap.
“Memang ada faktor pemberat, seperti gizi buruk dan penyakit bawaan. Selain itu, imunisasi anak juga tidak lengkap,” ungkap Suci kepada sejumlah wartawan di RSD Gunung Jati, Jumat (17/4/2026).
Suci menjelaskan, pasien bayi berinisial D, warga Kota Cirebon harus mendapatkan perawatan intensif di ruang PICU pada 11 Maret 2026. Bayi berusia tujuh bulan itu dalam keadaan yang sangat lemah.
Sayangnya, kurang dari 24 jam, bayi berinisial D harus menghembuskan napas terakhirnya. Selain terpapar campak, bayi D juga memiliki kelainan pada organ jantungnya dan komplikasi.
Satu pasien lainnya yang meninggal dunia adalah bayi berinisial K, berusia delapan bulan, warga Kabupaten Cirebon. Ia meninggal dunia pada awal April saat sedang mendapatkan perawatan medis secara intensif.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur RSD Gunung Jati, dr Katibi mengatakan, secara keseluruhan pada triwulan I tahun 2026 terdapat 59 pasien terkonfirmasi campak yang ditangani di IGD rumah sakit tersebut.
Rinciannya yakni 26 pasien di Januari, 19 pasien di Februari dan lima pasien di Maret.
“Mayoritas pasien datang melalui IGD dengan kondisi yang sudah membutuhkan penanganan cepat,” kata Katibi.
Ia menilai, tingginya jumlah kasus campak yang ditangani RSD Gunung Jati menjadi gambaran bahwa penyebaran di masyarakat kemungkinan lebih luas, bahkan belum sepenuhnya terdeteksi.
“Kalau yang sampai ke rumah sakit saja sudah banyak, bisa jadi di tingkat puskesmas dan masyarakat jumlahnya lebih banyak,” katanya.
Menghadapi lonjakan kasus campak, RSD Gunung Jati memperkuat sistem penanganan dengan memastikan kesiapan tenaga medis, fasilitas, serta penyediaan ruang isolasi guna membatasi penularan.
Di sisi lain, Kota Cirebon sendiri saat ini masih menyandang status kejadian luar biasa (KLB) kasus campak sejak Februari 2026 lalu. Status itu seiring dengan lonjakan kasus campak yang terjadi. (afi)

