Siberasi.id – Suasana khas dan berbeda terasa setiap menjelang salat Jumat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon.
Tujuh orang muadzin berdiri bersamaan, mengumandangkan adzan tanda memasuki waktu salat. Semuanya mengenakan jubah berwarna hijau. Dalam tradisi Cirebon, dikenal sebagai “Adzan Pitu”.
Adzan artinya panggilan bagi umat Muslim untuk menunaikan salat. Sedangkan ‘pitu’ adalah bahasa Cirebon yang berarti ‘tujuh’.
Tradisi ini telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu dan hingga kini tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan spiritual masyarakat Cirebon.
Patih Keraton Kasepuhan, Pangeran Raja Goemilar Soeryadiningrat, mengatakan tradisi tersebut bermula pada masa Sunan Gunung Jati saat wabah penyakit melanda Cirebon.
“Banyak masyarakat yang terkena wabah tersebut. Sunan Gunung Jati kemudian berdoa memohon petunjuk kepada Allah SWT. Dalam doanya, beliau mendapat petunjuk untuk melaksanakan Adzan Pitu,” ungkap PR Goemilar, Jumat (20/2/2026).
Sejak saat itu, tradisi Adzan Pitu terus dilestarikan dan menjadi bagian dari rangkaian ibadah salat Jumat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Hingga kini, masyarakat masih meyakini tradisi tersebut sebagai bentuk ikhtiar dan doa untuk menolak bala atau marabahaya.
“Adzan Pitu telah berlangsung selama kurang lebih 400 tahun dan tetap dipertahankan sebagai warisan budaya dan spiritual masyarakat Cirebon,” tuturnya.
Selain memiliki nilai religius, Adzan Pitu juga menjadi simbol kekuatan budaya Islam Cirebon yang sarat sejarah.
Hingga kini, masyarakat masih meyakini pelaksanaan Adzan Pitu sebagai bentuk doa bersama untuk keselamatan dan keberkahan. Sekaligus menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. (afi)

