Siberasi.id – Pimpinan DPRD bersama Anggota Komisi II dan III DPRD Kota Cirebon rapat dengar pendapat bersama sejumlah elemen masyarakat, seniman dan budayawan Kota Cirebon membahas peran Mayor Tan Tjin Kie sebagai Pahlawan dalam Membangun Ekonomi di Cirebon.
Rapat yang diselenggarakan pada Senin (2/2/2026), di ruang rapat Griya Sawala DPRD Kota Cirebon ini, turut dihadiri oleh Staff Ahli wali Kota Cirebon, Disbudpar, Bappelitbangda, DPRKP, DPUTR dan BPKPD Kota Cirebon.
Wakil Ketua DPRD Kota Cirebon, Harry Saputra Gani mengatakan, DPRD dan pemerintah daerah merupakan penyelenggara pemerintahan, sehingga DPRD mesti menjembatani usulan masyarakat kepada pemerintah eksekutif.
Terlebih pemberian penghargaan bagi tokoh masa lalu yang memberikan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi dan budaya Cirebon, yakni Mayor Tan Tjin Kie dan tokoh Keagamaan yakni Al Habib Muhammad bin Syekh bin Yahya (Kang Ayip Muh) Cirebon.
“Faktanya Mayor Tan Tjin Kie banyak peninggalannya, seperti rumah sakit, pabrik gula, kemudian rumah di santa maria, pabrik di Karangwusuwung, dan ada bangunan yang sudah tidak ada menjadi mal,” terangnya.
“Termasuk Kang Ayip Muh, peran beliau sangat besar dalam menghilangkan praktik perjudian di sejumlah wilayah Cirebon.
Harry juga mengatakan, momentum ini bisa menegaskan Kota Cirebon seperti namanya, Caruban yakni akulturasi kebudayaan dan toleransi.
Hal serupa disampaikan oleh Ketua Komisi III DPRD, yusuf MPd. Ia mengatakan, momentum ini mengembalikan literasi kebudayaan di Kota Cirebon. Komisi III mengapresiasi dan berterimakasih karena semua elemen yang hadir mengembalikan ingatan kepada warga terhadap orang-orang yang berjasa membangun Kota Cirebon.
“Ini sebagai bentuk terimakasih kita, maka hal ini mesti diseriusi dan mencari formulasi untuk menjawab usulan yang sudah disampaikan dengan berdiskusi dengan walikota Cirebon, mendorong agar usulan budayawan dan masyarakat bisa terealisasi,” tuturnya.
Anggota Komisi III DPRD, Umar Stanis Klau juga mengatakan, Kota Cirebon memiliki kekayaan budaya dan sejarah, jangan sampai ramai di permukaan tetapi belum memuliakan tokoh besar yang sudah membangun Kota Cirebon.
“Ini pun merupakan motivasi yang positif untuk kebangkitan kembali peradaban Cirebon. hari ini tokoh tionghoa, mungkin tokoh lain, baik suku arab, india dan lainnya yang pernah berperan membangun Kota Cirebon,” jelasnya.
Masih kata Umar Klau, secara genetika sejarah Cirebon berasal dari berbagai latar belakang negara. “Sepaham dan sepakat, tinggal nanti kita tidak sampai di sini saja, diharapkan tahun ini respon positif dari pemerintah, yakni penghargaan untuk Mayor Tan Tjin Kie dan Abah Ayip Muh,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua MESTi Cirebon, Dedi Setiawan mengungkapkan, meminta agar Pemerintah Daerah Kota Cirebon memberikan perhatian dan penghargaan kepada dua tokoh tersebut.
“Jasa kedua tokoh ini jelas, maka sudah seharusnya Pemkot memberikan penghargaan,” ungkap Dedi.
MESTi pun memberikan catatan, jika dalam satu tahun tidak ada respon dari Pemkot Cirebon, maka makam Mayor Tan Tjin Kie akan dipindahkan ke Kota Malang. Karena mereka meminta secara langsung.
“Jika pemda diam, kita akan pindahkan makam Mayor Tan Tjin Kie, karena pemda disana meminta, dan siap memberikan penghargaan,” kata Dedi.
Sebagai informasi, Mayor Tan Tjin Kie (1853-1919), sosok saudagar yang menurut cerita sejarah merupakan sosok saudagar kaya, dermawan dan menjadi pahlawan dalam membangun ekonomi di Kota Cirebon pada masa lampau.
Kemudian sosok Habib Muhammad bin Syekh bin Abu Bakar bin Yahya, atau yang dikenal dengan Kang Ayip Muh dari Pondok Pesantren Jagasatru untuk sama-sama diangkat, atas nama besar dan jasanya dalam hal keagamaan di Kota Cirebon.

